Bagaimana Toko Serba Ada Mengelola 500 Pesan WhatsApp per Hari dengan Tim 3 Orang
Retailer online Toko Serba Ada mengurangi volume pesan ke agen sebesar 58% dan memangkas waktu respons dari 47 menit menjadi 8 menit dengan automasi berbasis Orqestra.
Tentang bisnis: Toko Serba Ada adalah retailer online yang menjual kebutuhan rumah tangga dan produk dapur. Berbasis di Surabaya, mereka melayani pelanggan di seluruh Indonesia melalui toko Tokopedia, Shopee, dan website sendiri. Volume order harian berkisar 200-400 transaksi, dengan pertanyaan pelanggan via WhatsApp yang bisa mencapai 500 pesan di hari-hari ramai.
Sebelum: Satu Nomor, Satu HP, Tiga Orang Bergantian
Rizal, founder Toko Serba Ada, bercerita bahwa sebelum menggunakan platform ini, tim customer service mereka mengelola semua pesan dari satu nomor WhatsApp Business yang ada di satu ponsel fisik.
"Praktiknya, ponsel itu ada di meja siapa yang masuk kerja paling pagi. Kalau ada shift, ponselnya diserahkan. Kalau ada yang sakit, pesan bisa numpuk sampai ratusan sebelum ada yang buka."
Ini bukan skenario yang jarang terjadi di bisnis yang sedang berkembang. Kemudahan WhatsApp Business App yang bisa langsung dipakai dari ponsel memang menarik di awal, tapi tidak skalabel.
Beberapa masalah konkret yang mereka hadapi:
Waktu respons yang tidak konsisten. Di hari sibuk, ada pesan yang baru dibalas setelah 3-4 jam. Beberapa pelanggan sudah kabur ke kompetitor sebelum mendapat balasan.
Tidak ada visibilitas untuk tim. Agen yang masuk shift sore tidak tahu percakapan mana yang sudah ditangani dan mana yang belum. Beberapa pelanggan akhirnya mendapat dua balasan yang saling bertentangan.
Riwayat percakapan tidak bisa diakses bersama. Kalau ada komplain dari pelanggan lama, tim harus scroll jauh ke atas untuk mencari konteks percakapan sebelumnya.
"Yang paling capek itu pertanyaan yang sama terus berulang — 'ongkir ke Makassar berapa?', 'barang sudah dikirim belum?', 'bisa bayar transfer BCA?'. Kami hitung, sekitar 60% pertanyaan masuk itu itu-itu aja," kata Rizal.
Transisi: Migrasi dalam Satu Akhir Pekan
Keputusan untuk beralih datang setelah ada kejadian yang memicu — dua agen sakit bersamaan di hari Harbolnas, dan tim terpaksa menutup WhatsApp Business sementara karena tidak ada yang bisa mengelola. Beberapa pelanggan yang sudah melakukan pembayaran DP tidak bisa dihubungi untuk konfirmasi.
Rizal memutuskan untuk mulai setup di platform ini pada hari Sabtu malam. "Prosesnya lebih cepat dari yang saya bayangkan. Nomor WhatsApp terhubung lewat jendela popup langsung di dasbor, tidak perlu konfigurasi di tempat lain. Minggu siang semua agen sudah bisa login dari laptop masing-masing."
Yang pertama mereka buat adalah flow otomatis untuk pertanyaan-pertanyaan yang paling sering datang. Mereka identifikasi 8 pertanyaan paling umum dari riwayat chat sebelumnya, lalu buat respons otomatis yang dipicu oleh kata kunci.
Hasilnya: Tiga Orang Mengelola yang Sebelumnya Butuh Lima
Tiga bulan setelah implementasi, Rizal membagi beberapa angka:
Volume pesan yang masuk ke agen turun 58%. Dari yang sebelumnya hampir semua pesan butuh respons manual, kini sebagian besar pertanyaan umum dijawab otomatis dalam hitungan detik.
Waktu respons rata-rata turun dari 47 menit menjadi 8 menit. Di jam sibuk, respons pertama dari bot biasanya langsung. Agen baru terlibat untuk kasus yang butuh penanganan lebih lanjut.
Tidak ada lagi "double reply". Karena setiap percakapan terlihat oleh semua agen dan hanya bisa dibalas oleh satu orang dalam satu waktu, masalah ini hilang sepenuhnya.
"Yang paling saya syukuri adalah sekarang kalau ada agen yang tidak masuk, bisnis tetap jalan normal. Bot menangani pertanyaan standar, dan agen lain bisa handle volume yang lebih besar tanpa kewalahan."
Yang Paling Mengubah Cara Kerja Tim
Dalam percakapan lebih lanjut, ada tiga fitur yang disebut Rizal sebagai yang paling berdampak:
Catatan internal. Agen sekarang bisa meninggalkan noted untuk agen berikutnya di thread percakapan yang sama. "Kalau saya lagi handle pelanggan yang komplex kasusnya, saya tinggal catatan singkat. Agen shift berikutnya langsung tahu konteksnya tanpa perlu nanya ke saya."
Penugasan otomatis. Mereka mengatur aturan penugasan sehingga pertanyaan teknis tentang produk langsung ke agen yang paling berpengalaman di kategori itu, sementara pertanyaan umum masuk ke antrian bersama.
Laporan harian. "Dulu saya tidak tahu berapa banyak pesan yang masuk setiap hari, berapa yang terjawab, berapa yang butuh waktu lebih dari 30 menit. Sekarang saya buka laporan setiap pagi dan bisa lihat kalau ada agen yang overload atau ada jam yang sering terjadi bottleneck."
Rencana Ke Depan
Rizal sedang mempertimbangkan untuk mengaktifkan integrasi dengan sistem warehouse mereka, sehingga pelanggan bisa mengecek status pesanan secara real-time lewat flow otomatis tanpa harus melibatkan agen sama sekali.
"Target saya adalah 80% percakapan bisa diselesaikan tanpa agen. Bukan karena saya mau kurangi tim, tapi supaya agen bisa fokus ke hal yang benar-benar butuh sentuhan manusia — komplain serius, negosiasi, pelanggan loyal yang butuh perhatian lebih."
Untuk bisnis di skala yang sama, Rizal menyarankan satu hal: "Jangan tunggu sampai sudah kewalahan. Setup-nya tidak serumit yang saya bayangkan, dan hasilnya langsung terasa dari minggu pertama."
Ingin hasil serupa untuk bisnis kamu?
Mulai dengan paket gratis dan lihat sendiri perbedaannya dalam beberapa hari pertama.
Cerita lainnya
Startup fintech dengan 80.000 nasabah aktif berhasil mengotomasi 61% percakapan, menaikkan CSAT dari 3,8 menjadi 4,3, dan menjaga tim tetap 12 orang meski volume naik dua kali lipat.
ReadRetailer online Toko Serba Ada mengurangi volume pesan ke agen sebesar 58% dan memangkas waktu respons dari 47 menit menjadi 8 menit dengan automasi berbasis Orqestra.
ReadBagaimana klinik kecantikan Glowskin dengan tiga cabang di Surabaya mengurangi 70% interaksi manual dan mempercepat waktu respons ke bawah satu menit menggunakan Orqestra.
Read